Senin, 31 Maret 2014

Presentasi Kelompok 2

KONSEP AKUNTANSI DARI PENGGABUNGAN USAHA DAN  AKUNTANSI UNTUK INVESTASI DALAM SAHAM


Nama    :  Indah Juanda P.Sianipar
Kelas    :  3DA03
NPM    : 43211561

Penggabungan usaha adalah : Suatu penyatuan dua atau lebih perusahaan, dimana adanya suatu kontrol atau kendali atas hak - hak  serta operasi perusahaan yang lainnya.

Metode Akuntansi yang digunakan dalam penggabungan usaha:
1. Pooling of Interest Method (Metode penyatuan kepemilikan)
    Intinya : Metode ini adalah jika perusahaan sudah bergabung, maka pasti kepemilikannya juga harus bersama atau saling memiliki.
2. Purchase Method (Metode pembelian)
    Intinya : Metode ini adalah adanya suatu transaksi pembelian atas harta dari perusahaan yang diajak          bergabung.

*Akuntansi Investasi dalam saham
Investasi dalam saham artinya sebuah perusahaan memiliki kepemilikan di perusahaan lain melalui kepemilikan sahamnya.

 Jadi,kalau kita beli saham di perusahaan misalnya yang tbk gitu, atau yang sudah terbuka buat publik berarti kita sudah berinvestasi dan memiliki hak dalam perusahaan itu atas hak kepemilikan saham kita entah berapa persen tergantung kita mampu atau ingin membeli berapa lembar saham.

Investasi saham dalam jumlah yang cukup signifikan membuat perusahaan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam menentukan kebijakan perusahaan.

*Metode penilaian Investasi
>> Metode biaya
     Dengan menggunakan metode biaya, investasi dicatat sebesar biaya perolehan. Jadi, dalam cost method  ini, perusahaan menggunakan metode biaya apabila hanya memiliki satu jenis saham.

>> Metode Ekuitas
     Dengan menggunakan metode ekuitas, pemerintah mencatat investasi awal sebesar biaya perolehan dan ditambah atau dikurangi sebesar bagian laba atau rugi pemerintah setelah tanggal perolehan.
    >> Metode nilai bersih  yang dapat direalisasikan
            digunakan terutama untuk kepemilikan yang akan dilepas atau dijual dalam jangka waktu dekat.

Penggunaan metode didasarkan pada kriteria-kriteria:

## Kepemilikan kurang dari 20% menggunakan metode biaya
## Kepemilikan lebih dari 50% menggunakan metode ekuitas.
   
   Pertanyaan - pertanyaan:

   1. Apa alasan perusahaan menggunakan metode penyatuan kepemilikan?
       Jb: # Agar terhindar dari peningkatan biaya depresiasi
            # Peningkatan fleksibilitas manajemen

   2. Kenapa tidak ada penjurnalan dalam metode biaya?
       Jb: # Karena kepemilikan tidak signifikan dan pada ekuitas dijurnal sebagai pengurang investasi.

   3. Pertanyaan dari bu Mailda
       Metode yang bagaimana lebih cocok bagi perusahaan?
      Jb: Metode ekuitas. Jika jumlah kepemilikan lebih dari atau sama dengan 50 %, maka perusahaan dikatakan memiliki pengendalian/kontrol terhadap perusahaan tersebut ( Laporan Keuangan konsolidasi). Jika posisi kontrol terhadap perusahaan anak melalui pemilikan saham-sahamnya dan perusahaan anak memiliki lebih dari satu jenis saham, maka harus dibedakan besarnya bagian hak-hak pemegang saham menurut jenis masing-masing.











Senin, 24 Maret 2014

Review Jurnal


ANALISIS COMMON SIZE UNTUK PENILAIAN KINERJA KEUANGAN  PT. UNILEVER INDONESIA TAHUN 2003 – 2012 

Penulis           : Lia Sari Dosen PNS Dpk pada Politeknik Darussalam
Vol                 : VI, No.1 
Tahun Terbit : 2013

A. Latar Belakang Masalah 

Informasi mengenai kinerja keuangan sebuah  perusahaan dapat diperoleh dari berbagai sumber. Salah satu sumber utama adalah informasi dari laporan keuangan. Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Laporan keuangan terdiri  atas laporan Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan keuangan. Bagi para analis, Laporan Keuangan merupakan salah satu sumber informasi penting dalam menilai kinerja perusahaan. Laporan keuangan menjadi sumber informasi untuk proses pengambilan keputusan. Penilaian kinerja melalui analisis laporan keuangan dapat dilakukan dengan berbagai teknik analisis laporan keuangan. Analisis laporan keuangan dapat dilakukan dengan teknik analisis komparatif, analisis trend, analisis indeks time series, analisis rasio, analisis common size, dan lain-lain. 

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kinerja keuangan PT. Unilever

Indonesia tahun 2003-2012 berdasarkan hasil analisis dengan teknik common size ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

>> Tujuan Penelitian

 Dalam penelitian ini, analisis laporan  keuangan dilakukan dengan tujuan untuk nderstanding dan evaluasi.  Dengan kata lain, analisis laporan keuangan dalam penelitian ini ditujukan untuk memahami kondisi keuangan  perusahaan dan juga menilai kinerja keuangan perusahaan.

>> Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini antara lain :
1. Bagi Penulis, diharapkan dapat lebih memahami penilaian kinerja keuangan  perusahaan dengan analisis laporan keuangan, khususnya metode common size.
2. Bagi Perusahaan, diharapkan dapat menjadi masukan dan sumber informasi dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan kinerja keuangan perusahaan.

3. Bagi pihak lain yang berkepentingan, diharapkan dapat digunakan sebagai referensi untuk menambah pengetahuan dan  pemahaman berkaitan dengan teknik analisis common size.

D. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan survei. Metode deskriptif bertujuan untuk menguraikan sifat atau karakteristik suatu fenomena tertentu (Umar : 2003 : 63). Dengan kata lain, metode ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan mengenai sesuatu hal.

E. Hasil 

Kita dapat  melihat tabel laporan laba rugi komparatif pada  jurnal yang tertera di alamat referensi di bawah. Secara umum, dapat dikatakan bahwa pos-pos dalam laporan laba rugi PT.Unilever mengalami kenaikan terus-menerus sejak tahun 2003 hingga tahun 2012. Kenaikan ini bahkan telah mencapai tiga kali lipat dalam waktu sepuluh tahun. Hal ini menunjukkan kinerja keuangan PT.Unilever Indonesia semakin baik  dari tahun ke tahun, selama sepuluh tahun terakhir.
 Langkah berikutnya adalah mengubah laporan laba rugi dalam format angka absolut menjadi format common size. Langkah ini dilakukan dengan mengaitkan setiap pos dalam laporan laba rugi dengan pos Penjualan pada tahun yang sama. Misalnya untuk Pos HPP tahun 2003, dihitung dengan rumus sebagai berikut :
 = (Rp.3906.550/Rp.8.123.625) x 100%
 = 48,09% 

Dari bahasan diatas, terlihat bahwa kinerja keuangan PT. Unilever Indonesia secara umum adalah baik. Hal tersebut ditunjukkan oleh kenaikan terus-menerus pada pos Laba Bruto, Laba Usaha, Laba sebelum PPh, dan Laba Tahun berjalan. Hal ini juga ditunjukkan dengan penurunan terus-menerus pada pos-pos Beban, yaitu HPP, dan Beban Pemasaran dan Penjualan. Kinerja keuangan yang kurang baik hanya ditunjukkan oleh kenaikan terus-menerus pada pos Beban Umum dan administrasi, namun pos ini jumlahnya tidak terlalu besar dibandingkan dengan pos lainnya dalam laporan Laba Rugi.

F. Kesimpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa kinerja keuangan PT. Unilever Indonesia secara umum adalah baik. Hal tersebut ditunjukkan oleh kenaikan terus-menerus pada pos Laba Bruto, Laba Usaha, Laba sebelum PPh, dan Laba Tahun berjalan. Hal ini juga ditunjukkan dengan penurunan terus-menerus pada pos-pos Beban, yaitu HPP, dan Beban Pemasaran dan Penjualan.  Saran untuk PT. Unilever Indonesia Tbk, sebaiknya PT. Unilever Indonesia Tbk dapat terus mempertahankan kinerja keuangan yang sudah baik selama sepuluh tahun terakhir. Langkah ini dapat dilakukan dengan meningkatkan nilai penjualan dan menstabilkan pos Beban Umum dan Administrasi.

Minggu, 23 Maret 2014

Catatan dari presentasi Akuntansi Keuangan Lanjut 2

NAMA    : INDAH JUANDA P.S 
NPM       : 43211561
KELAS   : 3DA03

PENGGABUNGAN USAHA



Penggabungan usaha adalah Penggabungan usaha yang terjadi jika dua atau lebih usaha yang terpisah bersama-sama menjadi satu entitas ekonomis.
Akuntansi Penggabungan Usaha terdiri atas:
*      Merger
*      Konsolidasi
*      Hubungan Afiliasi
*      Akuisisi
Keterangan:

>> Merger adalah suatu penggabungan dua perusahaan atau lebih menjadi satu dimana salah satu perusahaan dipertahankan dengan mengambil alih perusahaan lainnya kemudian, perusahaan yang diambil alih dibubarkan.

 
 






A+B+C=
>> Konsolidasi adalah suatu bentuk penggabungan usaha lainnya dimana ada pembentukan perusahaan baru. Adapun penggabungan dua perusahaan atau lebih dimana perusahaan  yang baru didirikan untuk mengambil alih semua perusahaan yang bergabung. Jadi setelah konsolidasi semua perusahaan lama yang bergabung dibubarkan dan membentuk perusahaan baru.

 






A+B+C=Z

Jika perusahaan menggunakan sistem konsolidasi, maka adanya suatu : 
- kontribusi relatif dari kekayaan bersih
- Kontribusi relatif darilaba yang diproyeksikan. Penentuan besarnya kontribusi relatif rata-rata laba perusahaan serta biasanya yang bisa melakukan perhitungan serta masalah - masalah yang terkait dengan hal ini adalahorang-orang yang ahli dalam bidangnya
>> Afiliasi adalah suatu  penggabungan usaha dengan cara membeli sebagian besar saham  misalnya lebih dari 50 % atau seluruh saham perusahaan lain  dan bertujuan untuk memperoleh hak pengendalian.

>> Akuisisi /Stock Acquisition adalah suatu penggabungan usaha dengan cara pembelian suatu perusahaan oleh perusahaan lain atau oleh kelompok investor.



Contoh Akuisisi di Indonesia:  PT.Transcorp, MNC TV,dll.

Ada dua prosedur pencatatan akuntansi apabila ada dua atau lebih badan
usaha yang diselenggarakan bersama atau digabung yaitu:

a)      metode penyatuan kepentingan (by pooling of interest method)
Apabila suatu penggabungan usaha dianggap sebagai suatu  pooling of
Interest, maka badan usaha yang baru dianggap sebagai kelanjutan dari semua
badan usaha yang bergabung.
b).  metode pembelian (by purchase method)
Metode pembelian ini menyatakan bahwa penggabungan usaha merupakan suatu transaksi dimana suatu entitas memperoleh aktiva bersih dari perusahaan-perusahaan lain yang bergabung.
Dalam metode pembelian ini, harus menyesuaikan nilai aktiva dan kewajiban. Di samping itu,membuat jurnal kepemilikan aktiva dari usaha yang digabung.
Dalam penggabungan usaha, seperti adanya masalah saham dan lain sebagainya kita juga mengenal istilah nilai buku dan nilai wajar.
Nilai buku adalah nilai aset perusahaan yang tertera pada catatan atau informasi pada umumnya.
Sedangkan nilai wajar adalah harga yang berlaku umum di pasaran yang dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran atas harta tersebut.

Pertanyaan  pada saat presentasi adalah :

* Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pemilihan dasar yang melakukan kontribusi relatif?
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan dasar yang melakukan kontribusi relatif, salah satunya adalah akibat adanya kebangkrutan.

* Kelebihan dan kelemahan Akuisisi?
Kelebihannya :
- Akuisisi tidak memerlukan adanya RPS (Rapat Pemegang Saham) serta suara dari pemegang saham.
- Perusahaan yang membeli dapat berurusan dengan pemegang saham.
- Akuisisi sering digunakan untuk menjaga ketersediaan pasokan bahan baku atau jaminan produk akan diserap oleh pasar
Kelemahan :   
-  Pembelian setiap aset  harus dilakukan secara hukum dalam akuisisi sehingga menimbulkan biaya legal yang tinggi.
- Jika cukup banyak pemegang saham minoritas yang tidak menyetujui pengambilalihan tersebut, maka akuisisi akan batal. 
-  Karena tidak memerlukan persetujuan manajemen dan komisaris perusahaan, akuisisi saham dapat digunakan untuk pengambilalihan perusahaan yang tidak bersahabat.
              
* Prosedur-prosedur metode pembelian dan metode pooling of interest.
 Kalau metode pooling of interest ,yang dicari  oleh teman kelompok 1 dari google sewaktu presentasi adalah : 
Prosedur Akuntansi Penggabungan usaha Metode Pooling Of Interest
>> Semua aktiva dan kewajiban milik perusahaan yang bergabung dinilai pada nilai buku saat diadakan penggabungan
>>Besarnya nilai investasi pada perusahaan yang bergabung sebesar jumlah modal perusahaan yang digabung atau sebesar aktiva bersih perusahaan yang digabung
>> Bila terjadi selisih antara jumlah yang dibukukan sebagai modal saham yang diterbitkan ditambah kompensasi pembelian lainnya dalam bentuk kas ataupun aktiva lainnya dengan jumlah aktiva bersih yang diperoleh, maka harus diadakan penyesuaian terhadap modal perusahaan yang akan digabung
>> Laporan keuangan gabungan adalah penjumlahan dari laporan keuangan milik perusahaan yang bergabung.

Sedangkan metode purchasing  atau pembelian:
>>Menyesuaikan nilai aktiva dan kewajiban milik perusahaan yang akan digabung sebesar nilai wajarnya
>>Mencatat transaksi penggabungan sebesar nilai investasinya (biaya perolehan). Jika pengakuisisi mengeluarkan saham, maka nilai wajar saham tersebut sebesar harga pasar pada tanggal transaksi penggabunga. Bila harga pasar tidak dapat digunakan sebagai indikator, maka diestimasi secara proporsional perusahaan pengakuisisi atau yang diakuisisi (mana yang lebih dapat ditentukan).

>> Membuat jurnal pemilikan aktiva dan kewajiban dari perusahaan yang digabung. Apabila terjadi selisih antara nilai investasi dengan aktiva bersih yang diterima perusahaan pengakuisisi, maka selisih tersebut dicatat ke dalam rekening goodwill pada kelompok aktiva.

Selasa, 11 Maret 2014

Artikel Keuangan

Artikel Keuangan tentang Diversifikasi

Pada artikel kali ini,saya akan membahas tentang diversifikasi. Tentu pembaca juga sudah pernah mendengar kata diversifikasi seperti diversifikasi ekonomi,diversifikasi investasi,diversifikasi internasional,dll.  Diversifikasi adalah sebuah suatu strategi investasi dengan menempatkan dana dalam bermacam investasi  dengan tingkat risiko dan laba yang berbeda pula.Nah,kali ini saya bahas mengenai ekonomi dan investasi saja,ya.
Diversifikasi ekonomi adalah usaha penganekaragaman product (bidang usaha) atau lokasi perusahaan yang dilakukan suatu perusahaan untuk memaksimalkan keuntungan sehingga arus kas perusahaan dapat lebih stabil, ini dilakukan perusahaan untuk mengatasi krisis ekonomi, sehingga apabila suatu perusahaan mengalami kemerosotan pendapatan di salah satu product atau negara/daerah, di product atau negara/daerah lain mendapatkan kelebihan pendapatan, sehingga kekurangan yang terjadi bisa tertutupi.Kalau menurut saya sistem seperti ini bagus apalagi kan kondisi perekonomian di Indonesia misalnya dimana sudah banyak mengalami kenaikan. Hal ini tentu berpengaruh terhadap konsumsi dan pendapatan juga atau pergeseran ataupun sirkulasi uang. Kalau perusahaan ingin menggunakan sistem ini tentu sangat bermanfaat baik dari segi laba dan juga mengatasi krisis sudah bisa dikatakan tidak terlalu memikirkan dua kali lipat tentang masalah keuangan. Biasanya hal ini dilakukan oleh perusahan besar Multi Nasional Coorporation (MNC) karena dengan demikian perusahaan dapat menjamin pendapatan / arus kas yang lebih stabil sehingga meningkatkan trust kepada pemegang saham.
Diversifikasi  investasi berbicara tentang manajemen investasi. Manajemen investasi adalah sebuah ilmu untuk mengatur atau me-manage investasi secara professional untuk mengelola beragam asset (baik paper asset dan real asset). Professional yang jago di bidang manajemen investasi biasanya kita sebut dengan manager investasi (MI). Produknya kita sebut portofolio. Dasar ilmu dari management investasi adalah alokasi asset, investasi jangka panjang dan diversifikasi.
Saya pernah belajar mengenai investasi dan ruang lingkupnya di pelajaran akuntansi keuangan menengah.Tentu banyak pilihan yang diberikan misalnya berinvestasi dalam saham,tabungan deposito berjangka,emas,obligasi,Pasar uang,pasar komoditi,dll. Dalam saham dikenal istilah High Risk High return.Jadi,tergantung kita kalau mau investasi ke salah satu pasar saja atau mau berinvestasi ke berbagai macam wadah yang bisa memberikan hasil yang sesuai dengan harapan kita atau calon investor dan tentunya menanggung sendiri resiko yang ada pada setiap investasi. Kalau misalnya kita bingung untuk menempatkan dana kita kemana bisa juga  ke reksadana.
Walaupun demikian ,diversifikasi dilakukan agar kita bisa mengetahui dan lebih waspada ketika ada suatu kerugian pada  investasi kita atau aset,sehingga  jika pada aset atau investasi lainnya memberikan laba yang sesuai dengan kita harapkan sehingga mengakibatkan keseimbangan juga.
Jadi, buat pembaca jika ingin berinvestasi silahkan memilih dengan bijak dan melakukan diversifikasi juga adalah sebuah pilihan tergantung Anda bagaimana untuk mengatasi dan menjalankannya.Semoga bermanfaat.Terima kasih.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Diversifikasi_(ekonomi)
http://www.finansialku.com/diversifikasi-investasi-perlu-atau-tidak/





Senin, 10 Maret 2014

Tugas 1 :Review Jurnal

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Financial Sustainability 
Ratio pada Bank Umum Swast Nasional Non Devisa Periode 
1995-2005

Penulis         : Luciana Spica Almilia, Nanang Shonhadji, Angraini 
Vol              : 11, No 1
Tahun terbit  : 2009


A.Latar Belakang Masalah
Sejak krisis melanda perekonomian nasional, berbagai tindakan telah dilakukan bersama oleh pemerintah dan bank Indonesia, dalam rangka pemulihan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan, namun kinerja perbankan belum sepenuhnya kembali sebagaimana kondisi sebelum krisis. Sehingga kondisi perbankan di Indonesia setelah krisis keuangan, masih menunjukkan terdapatnya bank-bank yang belum  dapat memenuhi ketentuan solvabilitas, permodalan likuiditas, profitabilitas maupun standar kepatuhan sebagaimana ditetapkan Bank Indonesia (Sri Haryati, 2006).
Berbagai kebijakan Bank Indonesia yang ditetapkan setelah krisis, semuanya bertujuan agar perbankan Indonesia tetap viable dalam menghadapi segala goncangan internal maupun eksternal. Kesehatan maupun kondisi keuangan dan non keuangan bank merupakan kepentingan semua pihak terkait, baik pemilik, pengelola (manajemen) bank, dan masyarakat pengguna jasa bank, Bank Indonesia selaku otoritas pengawasan bank, serta pihak lainnya. Kondisi bank tersebut dapat digunakan oleh pihak-pihak tersebut untuk mengevaluasi kinerja bank dalam menerapkan prinsip kehati-hatian, kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku dan manajemen resiko (Sri Haryati, 2006).

B.Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dijabarkan, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : Apakah Capital Adequacy Ratio (CAR),Non Performing Loan (NPL),Return on Assets (ROA), Rasio Efisiensi (BOPO), Loan to Deposit Ratio (LDR) dan sensitifitas bank terhadap variable makro ekonomi (money supply, indeks harga konsumen umum, dan tingkat suku bunga SBI) dapat digunakan untuk memprediksi financial Sustainability ratio pada Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa Periode 1995 - 2005?

C.Tujuan Penelitian
Penelitian ini betujuan untuk menguji konsistensi model prediksi kinerja keuangan pada Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa periode 1995-2005.Agar mendapatkan keuntungan yang tinggi, bank harus berusaha melakukan usaha atau kegiatan yang menunjang tingkat pertumbuhan bank tersebut. Tujuan bank untuk menghasilkan keuntungan yang besar adalah untuk mencapai tingkat pengembalian sendiri (Soeksmono 1995:103 dalam Amalia Rizky 2004).

D.Metode Penelitian
Sampel dalam penelitian ini adalah Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa yang tercantum pada Direktori Perbankan Indonesia pada periode pasca krisis ekonomi, yaitu tahun 1995-2005. Pengambilan sampel menggunakan cara non-probabilitas (non-probability sampling), dimana besarnya peluang atau probabilitas elemen populasi untuk terpilih sebagai subjek sampel tidak diketahui. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode sampel bertujuan (purposive sampling) berdasarkan pertimbangan tertentu(judgement sampling), yaitu suatu metode pengambilan sampling dengan maksud untuk tujuan tertentu, yaitu mendapatkan sampel yang representatif sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam penelitian ini.
Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang diperoleh sudah dalam bentuk jadi/data yang sudah diolah.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.  Variabel Dependen dalam penelitian ini adalah Financial Sustainability Ratio.
2.  Variabel Independen

Untuk menguji konsistensi model prediksi kinerja keuangan dan konsistensi model
sensitifitas variable makro ekonomi periode pra krisis dan pasca krisis, menggunakan pengujian stabilitas struktural Chow Test.

Langkah melakukan Uji Chow Test, adalah sebagai berikut:

1.  Melakukan regresi dengan observasi total periode (1995 - 2005) dan dapatkan nilai
restricted residual sum of squaresatau RSSr (RSS4) dengan nilai df = (n1+ n2 + n3 - k) dimana k adalah jumlah parameter yang diestimasi dalam hal ini adalah 8
2.  Melakukan regresi dengan observasi periode sebelum krisis (periode 1995-1996) dan dapatkan nilai RSS1 dengan df = (n1- k).
3.  Melakukan regresi dengan observasi periode pada saat krisis (periode 1997 -1999) dan dapatkan nilai RSS2 dengan df = (n2 - k).
4.  Melakukan regresi dengan observasi periode setelah krisis (periode 2000-2005) dan dapatkan nilai RSS3 dengan df = (n3 - k).
5.  Menjumlahkan nilai RSS1, RSS2 dan RSS3 untuk mendapatkan apa yang disebut unrestricted residual sum of squares(RSSur): RSSur = RSS1 + RSS2 + RSS3 dengan df = (n1 + n2 + n3 –3k).
6.  Menghitung nilai F test dengan rumus

F=

7.  Nilai rasio F mengikuti distribusi F dengan k dan (n1 + n2 + n3 – 3k) sebagai df untuk
penyebut maupun pembilang.
8.  Jika nilai F hitung > F tabel, maka kita menolak hipotesis nol dan menyimpulkan bahwa model regresi periode pra krisis, pada saat dan model regresi pasca krisis Ekonomi memang berbeda atau dengan kata lain bahwa model prediksi tidak memiliki konsisitensi.



E.Hasil
Berdasarkan data dari tabel 3, menunjukkan bahwa rata-rata kinerja keuangan pada Bank  Umum Swasta Nasional Non Devisa periode setelah krisis (2000-2005) lebih baik daripada rata-rata kinerja keuangan periode sebelum krisis (1995-1996) dan saat krisis (1997-1999) yang ditunjukan dengan persentasi rata-rata CAR periode setelah krisis lebih tinggi dari rata-rata CAR periode sebelum krisis dan saat krisis yaitu rata-rata CAR setelah krisis sebesar 36,27%, periode sebelum krisis sebesar 28,47%, dan saat krisis sebesar 28,71%, karena semakin tinggi ratarata CAR menggambarkan bahwa bank tersebut mempunyai tingkat kecukupan modal untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko semakin tinggi sehingga kemampuan bank untuk terus going concernsemakin tinggi.

Tabel 3.  Rata-Rata Variabel CAR, NPL, ROA, BOPO dan LDR


Hal ini juga ditunjukkan dengan nilai NPL dan ROA. Nilai NPL periode sebelum krisis lebih rendah dari rata-rata NPL periode saat krisis dan setelah krisis yaitu rata-rata NPL sebelum krisis sebesar 1,78%, periode saat krisis sebesar 6,30%, dan setelah krisis sebesar 10,80%, karena semakin rendah rendah rasio ini menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank semakin baik sehingga kemampuan bank untuk going concernsemakin Almilia: Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Financial Sustainability Ratio  49tinggi. Nilai rata-rata ROA periode sebelum krisis lebih tinggi dari rata-rata ROA periode saat krisis dan setelah krisis yaitu rata-rata ROA sebelum krisis sebesar 1,63%, periode saat krisis sebesar -0,51%, dan setelah krisis sebesar 1,58%, karena semakin besar Return On Asset(ROA) suatu bank maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan asetnya sehingga kemampuan bank untuk terus going concern semakin tinggi.





Hasil dari semua regresi maka didapatkan nilai residual-residual yang akan digunakan untuk menghitung nilai F hitung. Pada regresi sebelum krisis didapatkan nilai residual yaitu 2.727,333; regresi saat krisis didapatkan nilai residual yaitu 21.824,063; regresi setelah krisis didapatkan nilai residual 635.205,8 yang kemudian dijumlahkan menjadi nilai RSSur (unrestricted residual sum of squares) sebesar 659.757,196; Hasil residual regresi seluruh periode adalah yang disebut dengan RSSr (restricted residual sum of squares) sebesar 697.831,043 Hasil dari RSSr dikurangi dengan hasil dari RSSur dan dibagi dengan k, dimana k sama dengan jumlah variabel independent yang diujikan yaitu 8. Kemudian dibagi dengan hasil pembagian RSSur dengan 284 dari nilai (n1+n2+n3-3k). Dengan demikian didapatkan nilai F hitung sebesar 2,05 dan dari F tabel dengan df = 8 dan 284 tingkat signifikan 0,05 didapatkan F tabel sebesar 1,98; Nilai F hitung dibandingkan dengan F tabel, maka didapatkan nilai F hitung > F tabel.




                Hasil pengujian regresi pada periode pra krisis, krisis, dan pasca krisis seperti yang diringkas pada tabel 5 menunjukkan bahwa dari kedelapan variabel dependen memiliki tingkat signifikansi yang bervariasi selama periode pra krisis (1995 – 1995), krisis (1997 – 1999), pasca krisis (2000 – 2005) dan keseluruhan tahun (1995 – 2005). Pada periode pra krisis (1995 – 1996) menunjukkan bahwa variabel NPL, ROA dan Sensitifitas terhadap M2 adalah variabel yang berpengaruh pada Financial Sustainability Ratio.Pada periode krisis (1997 – 1999) menunjukkan bahwa variabel NPL, BOPO dan Sensitifitas terhadap M2 dan SBI adalah variabel yang berpengaruh pada Financial Sustainability Ratio.Pada periode pasca krisis (2000 – 2005) menunjukkan bahwa hanya variabel LDR adalah variabel yang berpengaruh pada  Financial Sustainability Ratio.

F.Kesimpulan

Tujuan penelitian ini untuk menguji konsistensi model prediksi kinerja keuangan pada Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa periode 1995-2005. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kinerja keuangan Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa yang diproksikan melalui Financial Sustainability Ratio (FSR) dan yang digunakan sebagai variabel independen terdiri dari rasio keuangan bank yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Return on Assets (ROA),Rasio Efisiensi (BOPO), Loan to Deposit Ratio (LDR) dan sensitifitas bank terhadap faktor makro ekonomi yaitu (money supply, indeks harga konsumen umum, dan tingkat suku bunga SBI). Sampel yang terpilih dalam penelitian ini dengan metode purposive samplingberjumlah 28 bank umum swasta nasional non devisa yang terdaftar di direktori Bank Indonesia selama tahun 1995-2005.
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda dengan menggunakan metode stepwise. Pada hasil pengujian konsistensi model prediksi kinerja keuangan pada Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa periode 1995-2005 dengan menggunakan pengujian Uji Chow Test. Hasil Uji Chow Test didapatkan nilai F hitung sebesar 2,05 dan dari F tabel dengan df = 8 dan 284 tingkat signifikan 0,05 maka didapatkan F tabel sebesar 1,98; Nilai F hitung dibandingkan dengan F tabel, maka didapatkan nilai F hitung > F tabel. Dapat disimpulkan bahwa krisis ekonomi di Indonesia mempengaruhi stabilitas model regresi.Sehingga penelitian ini menyimpulkan bahwa model prediksi kinerja keuangan pada Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa tidak konsisten pada periode 1995-2005.

Referensi




Rabu, 25 Desember 2013

Tugas Softskill 3


Proses Produksi PT. Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk ( Input --> Proses --> Output dan SDM yang terkait )

1.1 Keragaan PT. Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk

1.1.1   Sejarah Berdirinya PT. Indofood Makmur
Perusahaan ini didirikan dengan nama PT Panganjaya Intikusuma berdasarkan Akta Pendirian No.228 tanggal 14 Agustus 1990 yang diubah dengan Akta No.249 tanggal 15 November 1990 dan yang diubah kembali dengan Akta No.171 tanggal 20 Juni 1991, semuanya dibuat dihadapan Benny Kristanto, SH., Notaris di Jakarta dan telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.C2-2915.HT.01.01Th.91 tanggal 12 Juli 1991, serta telah didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dibawah No.579, 580 dan 581 tanggal 5 Agustus 1991, dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.12 tanggal 11 Februari 1992, Tambahan No.611.
Perseroan mengubah namanya yang semula PT Panganjaya Intikusuma menjadi PT Indofood Sukses Makmur, berdasarkan keputusan Rapat Umum Luar Biasa Para Pemegang Saham yang dituangkan dakam Akta Risalah Rapat No.51 tanggal 5 Februari 1994 yang dibuat oleh Benny Kristianto, SH., Notaris di Jakarta. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. merupakan salah satu perusahaan mie instant dan makanan olahan terkemuka di Indonesia yang menjadi salah satu cabang perusahaan yang dimiliki oleh Salim Group.
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Cabang Bandung didirikan pada bulan Mei 1992 dengan nama PT Karya Pangan Inti Sejati yang merupakan salah satu cabang dari PT Sanmaru Food Manufcturing Company Ltd. yang berpusat di Jakarta dan mulai beroperasi pada bulan Oktober 1992. Pada saat itu jumlah karyawan yang ada sebanyak 200 orang
Pada tahun 1994, terjadi penggabungan beberapa anak perusahaan yang berada di lingkup Indofood Group, sehingga mengubah namanya menjadi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. yang khusus bergerak dalam bidang pengolahan mie instan. Divisi mie instan merupakan divisi terbesar di Indofood dan pabriknya tersebar di 15 kota, diantaranya Medan, Pekanbaru, Palembang, Tangerang, Lampung, Pontianak, Manado, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, Makasar, Cibitung, Jakarta, Bandung dan Jambi, sedangkan cabang tanpa pabrik yaitu Solo, Bali dan Kendari.
Hal ini bertujuan agar produk yang dihasilkan cukup didistribusikan ke wilayah sekitar kota dimana pabrik berada, sehingga produk dapat diterima oleh konsumen dalam keadaan segar serta membantu program pemerintah melalui pemerataan tenaga kerja lokal.
1.1.2   Struktur Organisasi
struktur
 Gambar 1 Struktur Organisasi PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk

1.1.3   Job Description
Pembagian tugas dan tanggung jawab dari masing-masing bagian dalam struktur organisasi sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai berikut:
1)            Manajer Umum (General Manager)
Manejer utama mempunyai wewenang tertinggi perusahaan yang bertanggung jawab atas berlangsungnya segala kegiatan perusahaan meliputi memimpin mengatur, membimbing dan mengarahkan organisasi perusahaan, dimana kegiatan tersebut untuk mencapai prestasi yang tinggi dalam menghasilkan produk-produk berkualitas dengan jaminan sistem mutu yang selalu terjaga dan dilaksanakan secara konsisten.
2)            Manajer Pabrik (Factory Manager)
Manajer pabrik bertugas dan bertanggung jawab dalam mengatur dan mengawasi kegiatan yang berhubungan dengan produksi dan mengambil tindakan untuk kelancaran jalannya proses produksi. Selain itu manajer pabrik memiliki tugas dan tanggung jawab: (1) Merencanakan, mengkoordinasi, mengarahkan dan mengendalikan kegiatan manufacturing yang meliputi PPIC, produksi, teknik purchasing dan gudang untuk memperlancar proses pencapaian sasaran perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang. (2) meningkatkan usaha dalam bidang peningkatan mutu produk, produktifitas kerja dan pengendalian biaya operasional secara kontinu. (3) Mengatur dan mengendalikan proses manufacturing sesuai dengan standar yang ditentukan.
  • Supervisor Produksi (Production Supervisor)
Supervisor produksi bertugas menyempurnakan organisasi, prosedur dan sistem kerja guna pencapaian dalam semua aspek. Menyediakan kebutuhan sarana dan fasilitas kerja sesuai dengan persyaratan.
  • Manajer Teknik (Manager Technical)
Bertugas merencanakan, mengkoordinasi dan mengendalikan kegiatan teknik sehingga dapat menjamin kelancaran operasional mesin produksi dan sarana penunjang. Membuat perencanaan kerja yang diselaraskan dengan tujuan manajemen khususnya dalam kegiatan yang menyangkut teknik. Menjaga pelaksanaan perawatan dan perbaikan mesin.
  • Manajer Gudang (Warehouse Manager)
Manajer gudang bertugas merencanakan dan mengendalikan kegiatan pergudangan, sehingga tercapai tujuan utamanya, diantaranya keamanan, keakurasian jumlah dan kebutuhan barang yang dikelola, dengan melaksanakan sistem dan prosedur yang telah ditetapkan manajemen. Menerapkan prosedur kerja, termasuk syarat-syarat, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk menjaga dan memelihara semua aset perusahaan berupa aset tetap atau aset tidak tetap. Menjaga kelancaran dan pelaksanaan semua kegiatan arus transaksi barang melalui penentuan tata letak gudang serta penunjang tenaga pelaksana, agar tercapai pemanfaatan fasilitas dan optimalisasi tenaga kerja.
  • Supervisor PPIC
Supervisor ini bertugas merencanakan jadwal produksi dan mengendalikan pengadaan bahan baku (Raw Material)/RM dan barang jadi (Finish Good)/FG. Merencanakan kedatangan RM untuk menunjang kelancaran proses produksi sesuai jadwal yang telah dibuat. Membuat jadwal produksi berdasarkan Confirmed Weekly Order (CWO) yang diterima. Memantau tingkat persediaan dari gudang RM maupun FG sehingga standard dan persediaan penyangga tetap terjaga.
3)             Manajer Pengembangan dan Pengawasan Mutu Produk (Branch Process Development and Quality Manager)
Manajer PDQC bertugas dan bertanggung jawab dalam memeriksa bahan baku, bahan tambahan, produk jadi, dan bahan pengemas. Mengawasi analisa kualitas produksi, bertanggung jawab atas kelengkapan laboratorium untuk analisa dan pengembangan produk. Selain itu BPDQC bertugas dan bertanggung jawab: (1) Mengendalikan semua kegiatan departemen PDQC dalam aspek proses pengendalian mutu untuk menjamin kelangsungan aktifitas perusahaan. (2) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan GLP dan Kalibrasi di laboratorium serta GNP dan HACCP diproses produksi. (3) Mengendalikan semua kegiatan pengendalian mutu pada proses awal pengawasan mutu dan hasil pengawasan serta pengembangan produk. (4) Mengatur dan merencanakan kerja, kebutuhan kerja tenaga kerja, alat bantu dan fasilitas kerja selama masih dalam batas-batas standar baku yang diselaraskan dengan rencana manajemen. (5) Menilai/mengevaluasi kerja staff departemen PDQC.
  1. Supervisor Pengawasan Mutu Proses (Quality Control Process Spv)
Supervisor pengawasan mutu proses bertugas membantu BPDQC dalam hal sistem pengendalian mutu proses produksi. Memantau & mengendalikan kualitas proses produksi dan produk jadi, sesuai standar mutu yang ditetapkan. Memantau pekerjaan QC Process Spv & bagian administrasi. Melakuaka perbaikan mutu dan costperalatan untuk kebutuhan analisis.
  1. Supervisor Pengawasan Mutu Bahan Baku/Produk Jadi (Quality control Raw Material/Finished Good Spv)
Supervisor pengawasan mutu bahan baku/produk jadi bertugas membantu BPDQC dalam hal pengendalian mutu RM & FG serta pengembangan proses produksi. Melakukan pengawasan secara langsung terhadap proses Incoming Quality Control (IQC), Outgoing Quality Control (OQC) yang meliputi koordinasi QC Field RM & FG serta pelaksanaan penerbitan hasil analisa IQC dan OQC sehingga aktivitas kerja bisa berjalan lancar. Melakukan koordinasi tugas IQ RM & FG, OQC RM & FG serta mengembangkan proses. Menjaga kelancaran tugas penerimaan RM/FG dan OQC RM/FG. Mengawasi pelaksaan GMP HACCP dan SOP pada pergudangan. Mewakili BPDQC jika tidak ada. Memantau, mengevaluasi standar mutu yang telah ditetapkan.
4)            Manajer Keuangan (Finance and Accounting Manager)
Manajer keuangan bertugas dan bertanggung jawab merencanakan, menyiapkan budget dan planning (AOP) untuk menentukan tujuan yang harus dicapai. Memonitor kegiatan operasional dalam hal aspek financialsupaya sejalan dengan AOP. Menandatangani bank instrument (Cek, transfer bank) sesuai dengan batasan yang ditetapkan perusahaan. Verifikasi setiaap pengeluaran biaya ataupun pembelian aset dan penggunaan dana lainnya sesuai dengan batasan yang ditetapkan oleh perusahaan. Menetapkan pelasanaan sistem dan prosedur yang berkaitan dengan keuangan.
5)                 Manajer Personalia (Branch Personnerl Manager)
Manajer personalia memiliki fungsi merencanakan, mengkordinir, mengarahkan dan mengendalikan kegiatan kepersonaliaan yang meliputi hubungan industrial, administrasi kepegawaian, keamanan, kehumasan, dan pelayanan umum untuk mendukung proses pencapain tujuan perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Selain itu manajer personalia memiliki tugas dan tanggung jawab menciptakan hubungan industrial yang harmonis untuk mencapai ketenangan industrial (ketenangan kerja dan ketenangan usaha) dilingkungan perusahaan. Menyelenggarakan syarat-syarat dan kondisi kerja dalam rangka mewujudkan hak dan kewajiban karyawan dan administrasi kepegawaian secara tepat sebagai syarat untuk meningktkan produktifitas kerja yang optimal. Memberikan dukungan dan pelayanan kepada seluruh pihak agar dapat mencapai standar kerja secara optimal. Membuat analisa pengembangan organisasi secara berkala dan secara aktif ikut mendukung kegiatan-kegiatan pengembangan mutu/Total Quality Management (TQM). Turut serta melaksanakan program HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point).
6)            Manajer Pemasaran (Areaa Sales and Promotion Manager)
Manajer pemasaran memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mengkoordinir distribusi produk ke daerah pemasaran, melakukan tugas penjualan dan permintaan produk, menyiapkan rencana penjualan dan permintaan produk, merencanakan dan membuat rancangan promosi, serta membuat rencana penjualan dan permintaan produk.
7)            Purcashing Office
Purchasing memiliki tugas dan wewenang dalam menetapkan dan memelihara prosedur pembelian untuk mengendalikan aktifitas pembelian, mengesahkan dokumen pembelian sebelum dokumen dikirim ke pemasok dan memilih serta mengevaluasi pemasok yang telah ditetapkan.
1.1.4   Tujuan Pendirian
Tujuan didirikannya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Bandung adalah (1) memperluas bidang usaha secara terus menerus melalui bidang usaha internal maupun pengembangan usaha strategis; (2) mengurangi biaya transportasi; (3) selalu meningkatkan kesejahteraan karyawan; (4) mensuplai daerah lain yang selalu kekurangan persediaan barang; dan (5) berperan serta dalam pelestarian lingkungan hidup dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Visi dan misi yang ditunjukan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. adalah realistik, spesifik, dan meyakinkan yang merupakan penggambaran citra, nilai, arah dan tujuan untuk masa depan perusahaan.
Visi        : “Menjadi perusahaan yang dapat memenuhi kebutuhan pangan dengan produk bermutu, berkualitas, aman untuk dikonsumsi dan menjadi pemimpin di industri makanan”.
Misi       : “Menjadi perusahaan transnasional yang dapat membawa nama Indonesia di bidang industri makanan”.
1.1.5   Usaha Awal
Pada awalnya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. adalah perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan makanan dan minuman yang didirikan pada tahun 1971. Perusahaan ini mencanangkan suatu komitmen untuk menghasilkan produk makanan bermutu, aman, dan halal untuk dikonsumsi. Aspek kesegaran, higienis, kandungan gizi, rasa, praktis, aman, dan halal untuk dikonsumsi senantiasa menjadi prioritas perusahaan ini untuk menjamin mutu produk yang selalu prima.
Akhir tahun 1980, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. mulai bergerak di pasar Internasional dengan mengekspor mi instan ke beberapa negara ASEAN, Timur Tengah, Hongkong, Taiwan, China, Belanda, Inggris, Jerman, Australia, dan negara-negara di Afrika.
1.1.6   Sumber Daya Manusia Perusahaan
Pada saat ini Divisi Noodle, PT ISM memiliki lebih dari 1500 karyawan yaitu sekitar 70% merupakan pegawai pabrik dan 30% adalah staaf manajemen. Tingkat pendidikan yang dimiliki oleh karyawan bervariasi mulai dari SD sampai dengan Strata Satu.
Dalam rangka memperbaiki atau meningkatkan komitmen perusahaan terhadap kepercayaan pelanggan, maka perusahaan berusaha untuk meningkatkan mutu dan inovasi tenaga kerja adalah melalui pelatihan. Pelatihan yang dilakukan perusahaan terdiri dari tiga kategori, yaitu pelatihan dasar, pelatihan teknis fungsional, dan pelatihan manajerial.
Dalam penerimaan pegawai, Divisi Noodle, PT. ISM, Tbk menerapkan dua sistem. Pertama adalah sistem internal, apabila perusahaan membutuhkan suatu jabatan tertentu, maka akan ditinjau dulu pegawai yang telah ada dan berpotensi untuk promosi jabatan. Kedua adalah sistem eksternal, dimana HRD akan merekrut SDM dari luar yang bermutu dengan spesifikasi pekerjaan yang dibutuhkan melalui kantor Departemen Tenaga Kerja, iklan, Biro Konsultasi, atau dengan pemasangan pengumuman di lingkungan perusahaan.
1.1.7   Perkembangan Perusahaan
Perusahaan ini didirikan dengan nama PT Panganjaya Intikusuma berdasarkan Akta Pendirian No.228 tanggal 14 Agustus 1990. berdasarkan keputusan Rapat Umum Luar Biasa Para Pemegang Saham yang dituangkan dakam Akta Risalah Rapat No.51 tanggal 5 Februari 1994 Perseroan mengubah namanya yang semula PT Panganjaya Intikusuma menjadi PT Indofood Sukses Makmur. Pada awalnya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. adalah perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan makanan dan minuman yang didirikan pada tahun 1971.
PT. Indofood Sukses Makmur terus mengalami kemajuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya pesebaran distribusi produk  yang dipasarkan. Saat ini, PT. memliki 36 pabrik, lebih dari  10 merek dengan 150 rasa dan tipe distributor yang melayani hampir 150.000 outlet.
PT. Indofood Sukses Makmur cabang Bandung merupakan salah satu bagian dari noodle division, PT. Indofood Sukses Makmur memiliki areal kantor dan pabrik seluas 61.640 m². Cabang Bandung daerah cakupan pemasaran di kabupaten dan kota Bandung, Cimahi, Cikampek, Purwakarta, Subang, Cirebon, Tasikmalaya, Garut, Sukabumi, Cianjur, Indramayu, dan Sumedang.
PT. Indofood Sukses Makmur TBK cabang Indofood Grup yang bergerak dibidang mie instan merupakan pelopor dalam industri makanan olahan di Indonesia. Saat ini perusahaan menjadi perusahaan pengolahan mie terdepan dan memegang market leader pada masing-masing brand yang dimilikinya.

1.2         Bahan Baku (Input) PT. Indofood CBP Sukses Makmur

1.2.1   Bahan Baku Utama
Divisi Noodle, PT ISM, Tbk menggunakan beberapa bahan baku dalam pembuatan mie instan. Bahan baku yang digunakan didatangkan dari beberapa perusahaan yang telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Adapun bahan baku tersebut adalah :
  • Tepung Terigu
Tepung terigu diperoleh dari biji gandum yang digiling. Fungsi tepung terigu dalam pembuatan mie instan, antara lain memberi atau membentuk adonan selama proses pencampuran, menarik atau mengikat bahan lain dan mendistribusikan secara merata, mengikat gas selama proses penggorengan, membentuk struktur mie instan, serta sebagai sumber karbohidrat dan protein.
Divisi Noodle, PT ISM, Tbk menggunakan tiga jenis tepung terigu sebagai bahan baku utama, yaitu strong flour(tepung keras cap Cakra Kembar), medium flour (tepung setengah keras cap Segitiga Biru) dan soft flour(tepung lunak cap Segitiga Hijau). Ketiga jenis tepung tersebut bukan dianggap kelas-kelas mutu tepung, tetapi mempunyai klasifikasi khusus sehingga akan disesuaikan untuk tujuan penggunaan berbeda. Ketiga jenis tepung tersebut sudah mengandung telur sehingga mempunyai kadar protein tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan penanganan dalam proses pembuatan mie instan. Adapun standar bahan baku tepung terigu dapat terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Standar Bahan Baku Tepung Terigu
No.
Jenis Tepung
pH
Kadar Air (%)
Gluten (%)
Protein (%)
1.
Cakra Kembar
5,5-6,8
14,5 (max)
31 (min)
13
2.
Segitiga Biru
5,5-6,8
14 (max)
25 (min)
10,5-11,5
3.
Segitiga Hijau
5,5-6,8
14 (max)
21 (min)
9
Tepung terigu cap Cakra Kembar adalah terigu yang bermutu paling baik untuk pembuatan roti dan mie karena memiliki kandungan protein yang paling tinggi, yaitu sebesar 13 % yang dihasilkan dari 100% hard wheat.
  • Tepung Tapioka
Tepung tapioka digunakan untuk membentuk tekstur mie menjadi lebih keras, sehingga adonan mudah dibentuk sesuai dengan yang diinginkan. Tepung tapioka yang baik digunakan untuk pembuatan mie instan adalah  memiliki pH 4-8 dan kadar pati 80%. Tepung tapioka ini diperoleh dari perusahaan Darma Grindo, Lampung. Tepung tapioka ini dikemas dalam karung dengan berat per karung 50 kg.
2.2.2        Bahan Baku Penunjang
  • Air
Air digunakan untuk membentuk tekstur adonan dan gluten, mengkontrol kepadatan dan suhu adonan, melarutkan garam dan bahan-bahan tambahan lainnya, sehingga bahan-bahan tersebut dapat tersebar secara merata dalam adonan. Air yang digunakan harus air bersih, baik secara kimiawi maupun mikro biologis dan berasal dari Perusahaan Air Minum (PAM).
  • Alkali
Alkali merupakan campuran dari zat antioksidan, pengemulsi, pengatur keasaman, pengental, pengembang, pewarna, mineral dan penguat rasa yang aman untuk dikonsumsi dan berfungsi untuk membuat bentuk, warna, rasa dan mutu mie instan lebih baik.
Identifikasi kebutuhan bahan baku adalah penentuan jumlah bahan baku yang diperlukan untuk produksi mendatang. Identifikasi tersebut dilakukan berdasarkan perkiraan penjualan produk mie instan yang dihasilkan perusahaan dan pemakaian bahan baku pada periode sebelumnya.
2.2.3        Pemasok Bahan Baku
PT. Indofood Sukses Makmur TBK Bandung bekerja sama dengan beberapa pemasok (supplier) yang ditunjuk untuk pengadaan bahan baku (raw material) dan bahan pendukung lainnya. Adapun supplier-supplier yang ditunjuk untuk pengadaan bahan baku dan bahan pendukung produksi mie instan dapat dilihat dibawah ini.
Tabel 2 Supplier Raw Material
No
Material
Supplier
Lokasi
1
Tepung teriguBogasari Flour Mills
Jakarta
2
Minyak gorengSalim Ivomas
Jakarta
3
BumbuPT. Food Ingredient Development
Cikampek
4
Karton PackingRaci Pack
Jakarta
Puri Nusa
Bandung
5
EtiketSupermova
Jakarta
Prima Makmur
Jakarta
Respati
Jakarta
Cipta Kemas Abadi
Jakarta
Sistem pembelian dan penerimaan bahan baku pada Divisi Noodle, PT ISM, Tbk melibatkan beberapa pihak yang saling berkepentingan menurut fungsinya dalam perusahaan, yaitu Departemen ASP, PPIC, Purchasing(Pembelian), Ware House (Gudang), PDQC dan Finance and Accounting. Ke enam bagian ini memegang peranan penting dalam pengadaan bahan baku baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga produksi dapat berlangsung karena ketersediaan bahan baku tersebut.
2.2.4   Sistem Persediaan Bahan Baku
Penyimpanan bahan baku berada pada wewenang Departemen Warehouse (Gudang). Dalam manajemen gudang bahan baku Divisi Noodle , PT. ISM, Tbk terdapat penanganan bahan baku, yaitu :
  • Penerimaan
Sebelum masuk gudang, bagian penerimaan barang digudang akan mengontrol jumlah yang diterima berdasarkan pesanan (Purcashe Order) dan selanjutnya Departemen Quality Control akan mengambil contoh untuk memeriksa mutu yang telah ditetapkan. Perhitungan jumlah bahan baku tepung terigu dan tepung tapioka akan disesuaikan dengan standar yang telah ditetapkan oleh Divisi Noodle, PT ISM, Tbk. Tepung tapioka mempunyai berat 50 kg per zak, dan perusahaan telah memperhitungkan rendemen, sehingga berat per zak 49,85 kg. Sedangkan untuk tepung terigu, berat per zaknya 25 kg dan perusahaan juga telah memperhitungkan rendemennya sehingga berat per zak 24,55-24,85 kg.
  • Penyusunan
Kegiatan pengeluaran bahan baku untuk jenis tepung dilakukan dengan cara diangkat oleh kuli angkut. Setelah bahan baku diturunkan dari truk atau kontainer, bahan baku terlebih dahulu ditumpuk secara bersilang agar saling mengunci antar satu lapisan dengan lapisan lainnya di atas palet, sehingga bahan baku tidak terkontak langsung dengan lantai. Tinggi tumpukan maksimal tepung adalah 10 zak per palet.
  • Pengeluaran
Bahan baku yang dikeluarkan mengikuti sistem First In First Out (FIFO) yaitu bahan baku yang pertama masuk ke gudang dikeluarkan lebih dahulu dari gudang untuk proses produksi. Hal ini berkaitan dengan sifat bahan baku yang mempunyai batas kadaluarsa dan kerugian akibat penyimpanan yang terlalu lama. Bahan baku tepung terigu mempunyai batas penyimpanan di gudang bahan baku, yaitu satu bulan. Pada cuaca panas, penyimpanan melebihi satu bulan akan menimbulkan kutu pada tepung terigu.

2.3        Proses Produksi yang Terjadi di PT. ISM

Proses pembuatan mie instan terdiri dari delapan tahap, yaitu mixing (pencampuran), pressing (pengepresan),slitting (pembentukan untaian), steaming (pengukusan), cutting and folder (pemotongan dan pencetakan), frying(penggorengan), cooling (pendinginan) dan packing (pengemasan). Proses yang terjadi pada setiap tahap adalah :
  • Mixing atau Pencampuran
Proses mixing adalah proses pencampuran dan pengadukan material-material yang terdiri dari material tepung dan air alkali (campuran antara air dan beberapa ingredient yang ditentukan) sehingga diperoleh adonan yang merata atau homogen. Mutu adonan yang baik adalah yang tidak lembek dan tidak perau atau dengan kata lain memiliki kadar air sebesar 32% sampai dengan 34%. Proses pencampuran ini berlangsung kurang lebih selama 15 menit dengan suhu 35oC.
  • Pressing atau Pengepresan
Selain adonan menjadi homogen, campuran tersebut masuk ke dalam mesin pengepres adonan. Di dalam mesin pengepres, adonan melalui beberapa roll press. Adonan akan mengalami peregangan pada saat dipress dan terjadi relaksasi pada saat keluar dari roll press. Hal ini terjadi beberapa kali pada saat melalui roll presssehingga terbentuk lembaran yang lembut, homogen, elastik, dan tidak terputus dengan ketebalan tertentu. Tebal lembaran yang dihasilkan bergantung dengan jenis mesin yang digunakan. Rataan tebal lembaran yang dihasilkan adalah 1,12 – 1,18 mm.
  • Slitting atau Pembentukan Untaian
Suatu proses pemotongan lembaran adonan menjadi untaian mie dan kemudian siap dibentuk gelombang mie. Selanjutnya untaian mie tersebut dilewatkan ke dalam suatu laluan berbentuk segi empat yang disebut waving net, sehingga terbentuk gelombang mie yang merata dan terbagi dalam beberapa jalur.
  •  Streaming atau Pengukusan
Proses selanjutnya adalah proses pegukusan untaian mie yang keluar dari slitter  secara kontinu dengan menggunakan istream box atau mesin yang memiliki tekanan upa yang cukup tinggi dengan suhu tertentu. Proses pengukusan akan berlangsung selama dua menit dengan suhu pemanasan ± 65oC. Tujuannya adalah memasak mie mentah menjadi mie dengan sifat fisik padat. Dalam proses streaming ini akan terjadi proses gelatinisasi pati dan koagulasi gluten, yang menyebabkan gelombang mie bersifat tetap dan memiliki tekstur lembut, lunak, elastis, dan terlindungi dari penyerapan minyak yang terlalu banyak pada proses penggorengan atau frying.
  • Cutting and Folder atau Pemotongan dan Pencetakan
Pemotongan dan pencetakan adalah suatu proses memotong lajur mie pada ukuran tertentu dan melipat menjadi dua bagian sama panjang, kemudian mendistribusikannya ke mangkok penggorengan. Mie dipotong dengan menggunakan alat berupa pisau yang berputar.
  • Frying atau Penggorengan
Proses penggorengan adalah suatu proses merapikan mie didalam mangkok pengorengan, kemudian merendamnya di dalam media penghantar panas. Dalam hal ini minyak olein atau minyak goreng pada suhu tertentu dalam waktu tertentu. Tujuan dari proses penggorengan adalah untuk mengurangi kadar air dalam mie dan pemantapan pati tergelatinisasi. Kadar air setelah penggorengan adalah 4% sehingga mie menjadi matang, kaku dan awet.
  • Cooling atau Pendinginan
Ruangan pendingin mie adalah ruangan atau lorong yang terdiri dari sejumlah kipas untuk menghembuskan udara segar ke mie-mie yang dilewatkan dalam ruangan tersebut. Tujuan proses pendinginan adalah untuk mendinginkan mie panas yang keluar dari proses penggorengan hingga diperoleh suhu ± 30°C sebelum dikemas dengan etiket. Dengan diperolehnya suhu mie yang rendah sebelum dikemas maka mie akan lebih awet untuk disimpan dalam etiket selama beberapa waktu dan menghindari penguapan air yang kemudian menempel pada permukaan bagian dalam etiket yang dapat menyebabkan timbulnya jamur. Lamanya proses pendinginan adalah kurang lebih dua menit.
Secara Sistematis alur proses produksi mie instan dapat dilihat pada Gambar 1.
alur  
Gambar 2 Diagram Alur Produksi Mie Instan
Sumber daya yang terlibat dalam proses produksi pembuatan mie instan ini tidak terlalu membutuhkan sumber daya manusia yang terlalu banyak karena pengerjaan produksi dilakukan oleh teknologi mesin sehingga SDM yang dibutuhkan pada proses produksi sebatas pengawas jalannya produksi.
Karakteristik perusahaan dalam melakukan kegiatan produksi yang dimiliki PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. yakni bersifat mass production, yaitu jenis barang yang diproduksi relatif sedikit tetapi dengan volume produksi yang besar, permintaan produk tetap/stabil demikian juga desain produk jarang sekali berubah bentuk dalam jangka waktu pendek atau menengah.

2.4         Output Produksi PT. Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. divisi noodle merupakan salah satu cabang perusahaan yang dimiliki Salim Group yang memproduksi mie instan. Jenis produk mie instant yang dihasilkan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Bandung dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini:
Tabel 3 Produk yang Dihasilkan PT. Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk
NO
PRODUK
JUMLAH VARIAN RASA
1Indomie
8
2Indomie Special
2
3Indomie Vegan
2
4Indomie Regional Flavor
11
5Indomie Kriuk
3
6Indomie Jumbo
2
7Indomie SQN
6
8Indomie Paket
4
9Supermie Reguler
4
10Supermie Sedaaap
3
11Supermie Go Series
3
12Sarimi
6
13Sarimi Extra Besar
6
14Sakura
6
15Intermi
1
16POP Mie
15
17Mie Telor
2
18Anak Mas
2
19POP Bihun Spesial
4
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. memiliki orientasi pasar, dimana produksi yang dilakukan oleh perusahaan disesuaikan dengan permintaan pasar. Perusahaan selalu berusaha memenuhi kebutuhan konsumen, baik dalam kuantitas maupun kualitas produk. Oleh karena itu, perusahaan selalu mengembangkan inovasi guna memenuhi kepuasan pelanggan, khususnya selera konsumen.
Produk yang dihasilkan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. divisi mi instan terdiri dari 2 kelompok besar yaitu :
  1. Bag Noodle, yaitu mie instan dalam kemasan bungkus; dan
  2. Mie telor, yaitu mi yang dalam proses pembuatannya tidak digoreng melainkan dikeringkan.
Pengemasan mie adalah proses penyatuan dan pembungkusan mie, bumbu, minyak bumbu dan solid ingredient lainya dengan menggunakan etiket sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Tujuan dari proses pengemasan adalah untuk melindungi mie dari kemungkinan-kemungkinan tercemar atau rusak sehingga mie tidak mengalami penurunan mutu ketika sampai kepada konsumen. Setelah dikemas, selanjutnya mie tersebut akan dimasukkan ke dalam karton. Setelah mie dimasukkan ke dalam karton seluruhnya, karton akan direkatkan dan kemudian menuju gudang untuk disalurkan.

Sumber :http://ervinkurnia88.wordpress.com/2013/09/25/ruang-lingkup-manajemen-produksi-pt-indofood-sukses-makmur-tbk/